Senin, 17 November 2008

ya kayyuku ya Kayumu

demang wirosobo
newbie

UserID: 561890
Join Date: Oct 2008
Posts: 97


@@@
Quote:Originally Posted by Atret
"Bismillahi, syaithan nirojim." ???

Kemarin siang, Atret jalan2 menyusuri perkampungan di Babakan Madang. Lalu tak sengaja mengarah ke gunung Pancar yang kata orang serem itu.
Setelah 'Asyar, Atret bersama Mae tiba disebuah pondokan seorang kiyai, yang kata orang doanya manjur buat segala macam usaha. Hehe, Atret dan Mae sama2 lagi ngadepin jalan usaha yang buram.

Pertama ajukan permasalahan kepada asistan sang kiyai. Karena masalahnya sama lalu kami berdua disuruh masuk ke kamar praktek. Isi kamar cuma tikar dan piring seng berisi bara arang buat parukuyan. Tak lama mengebul asap kemenyan memenuhi ruangan. Tapi disana tak tampak ada benda2 magis seperti keris apalagi tengkorak. Pak kiyai ini aneh sosoknya, menerima banyak tamu cuma berkopiah bertelanjang dada. Kaus kuningnya disampirkan di pundak kiri.

Dalam praktik Mae disuruh emok, klo Atret bersila, lalu kiayi bilang ginih, "awas telapak tangan jangan diangkat. Tahan yang kenceng jangan bergetar." Sambil telapak tangan kanan disemprot minyak wangi. Atret mulai membaca Takbir didalam hati. Lalu ditengah talapak ditaruh sepotong menyan warna kuning rada coklat, terus diatasnya ditekenkan jimat berkain hijau gak tau apa isinya. Terus kiyai mulai menyambat para karuhun. Dari Jampang, dari Kudus, dari Kuningan. Terus membaca jangajawokan yang gak faham artnya. Jadi ingat sama istiilah ilmu konvensionil nih. Mana kiyai juga saliwang alias pekak lagih, yang membikin takut menyalahi saja. Tetapi begitu mendengar ucap Bismilllah nya, Atret mulai mewiridz doa pembuka Surah At-Taubah. "'Audzubillahi minan naar, waminsyaril kuffar, wa min ghadhabil jabbar. 'Aidzatulillahi walii rasulillahi wal mukminun." Terus menerus.

Setiap menyambat karuhun, kiyai selalu nyebut ginih, "Bismillahi, syaithan nirojim." Bukannya secara Islami, "Bismillahi Rahman nir Rahim."
Sekali Atret anggap silap. Kedua kali Atret anggap hilap. Tapi begitu ketiga kali, Atret langsung menyetopnya saja.
"Maaf kiyai, bukan ilmu begini yang saya inginkan. Kapan katanya aki ini kiyai. Tapi kenapa doanya dimulai dengan, atas nama syaithon yang terkutuk. Klo begitu sareat ilmu kiyai mintanya ke Syaithon yang terkutuk. Iya tidak Mae?"
"Anda jangan salah paham. Saya tidak pernah meminta apa2 kepada Syaithan. Tapi kepada Allah." Serunya sambil menunjuk keatas dengan mata merah berapi. Doa pembuka Surat At-Taubah kuwiridzkan kian gencar aja.
"Klo begitu kenapa mintanya bukan Atas Nama Allah yang Rahman dan Rohim? Tetapi Atas nama syaithan yang terkutuk? Klo sama ilmu yang beginian mah saya gak mau sampai terjerumus." Tatapku langsung ke matanya.

Lalu assistan dan isterinya datang. Dia bertanya kepada Mae yang lalu dijelaskan dan juga keterangannya kuperkuat.
"Klo gituh ya udah aja jangan. Yang lain2 juga gak apa2 dan pada berhasil kok." Ketusnya dengan muka marah.
"Ibu beragama Islam bukan?
"Iya saya Islam, sama aja sama neng Mae. Ini saya juga berjilbab."
"Ibu klo nyebut Bismillah, gimana?"
"Bismillahi Rohman nir Rohim."
"Klo kiyai menyebutnya Bismillahi Syaithan Nir Rojiim. Salah dong"
Ibu Marta lalu bicara dengan teriak kepada kiyai, tapi ditanggapinya sambil tertawa saliwang. Sejak tadi saya bereaksi, tangan sudah dilepaskan lalu menjatuhkan bungkusan jimat dan menyan keatas tikar. Makanya mata kiyai menjadi marong juga. Setelah kiyai paham akan maksud omongan saya yang diperkuat oleh isterinya, maka dia ngomong.
"Ya sudah klo anda tidak mau saya bantu. Saya tidak apa2. Tapi saya mohon anda jangan marah ka sayah dan karena anda sudah mengambil jiwa raga saya berupa potret. Saya minta jangan ada apa2 kepada saya sekeluarga. Ya pak." Ucapnya seraya memegangi tangan saya.

Tapi saya juga ngmong ginih, "Ya sudah. Tapi klo kiyai masih niat mau bantu orang banyak yang minta tamba dan sareat. Aki musti perbaiki niatan dan ucapan aki. Harus dengan Bismillah yang betul menurut agama Islam. Bukannya malahan menyesatkan dan menjerumuskan orang ke jurang Noraka."
"Oh tidak pak. Sayah tidak pernah menjerumuskan orang. Orang datang minta sareat ya saya bantu sebisa saya. Itupun klo mau dan percaya. Klo tidak percaya sama sayah ya sudah. " Ketawanya matak serem. Akhirnya kami pamit sambil kutinggalkan duit ceban. Amit2 jabang bayi ulah kabawa ku sa kaba2. Ucapku bergidig serem, lalu bersicepat berjalan menjauhi. Mana hujan mulai turun lagih. Lalu Mae mengajak ke masjid dan silaturahmi ke saudara sepupunya, Ustadz KH Chudri Haetami pimpinan ponpes Darussalaam, yang menertawai semua cerfitera kami.
@@@



ah....... memang kadang ilmu ilmu tempo dulu harus ada proses penyempurnaan baik dalam ucapan, pengucapan maupun hakekat dari ilmu tersebut,
suatu ketika ada seorang santri lugu (ngajinya setengah tengah) ingin menyebrang sungai, kebetulan jembatan penyebrangannya (dari bambu)roboh karena keterjang arus sungai yang lumayan deras karena banjir, karena dulu ia pernah mendengar doa dari seorang kyai (karena mungkin ia ngantuk) yang ia baca ya kayyuku ya Kayumu , meski ia bisa menyebrangi banjir(sungai ) tersebut
Kanjeng Sunan kalijaga yang kebetulan disisi sungai menarik senyum kecil yang cerita akhirnya santri tersebut diwejang tentang makna dan ejaan yang benar tentang kalimat tersebut yakni Ya HAYYU YA QOYYUMU

Tidak ada komentar: